Jangan Pernah Takut Menikah

Saturday, May 17, 2014

GUBHUG REYOTT™ | Islam telah menjadikan istri sebagai tempat yang penuh ketenteraman bagi suaminya. Allah SWT berfirman: “Di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya”. (QS Ar Rum: 21).

Secara fitrah, dengan menikah akan memberikan ketenangan bagi setiap manusia, jika pernikahan yang dilakukan sesuai dengan aturan Allah SWT. Pastinya setiap mukmin punya harapan yang sama tentang keluarganya, yaitu ingin berbahagia, menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.
Namun, sebagian orang menganggap bahwa untuk menjadikan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah serta langgeng hingga kakek nenek adalah hal yang tidak mudah dibuat begitu saja. Ia penuh onak dan duri, lika-liku, serta jalan yang cukup panjang.
Namun demikian, menikah itu bukanlah sesuatu yang menakutkan bagi yang menjalankan, hanya perlu perhitungan yang cermat serta persiapan matang saja, agar tidak menimbulkan penyesalan dikemudia hari. Sebagai risalah yang menyeluruh dan sempurna, Islam telah memberikan tuntunan tentang tujuan pernikahan yang harus dipahami oleh kaum Muslim.
Tujuannya adalah agar pernikahan itu mendapatkan keberkahan dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT serta benar-benar memberikan ketenangan bagi pasangan suami istri. Dengan itu akan terwujud keluarga yang bahagia dan langgeng hingga tua.
Menikah hendaknya diniatkan untuk mengikuti sunnah Rasullullah SAW, melanjutkan keturunan, dan menjaga kehormatan. Menikah juga hendaknya ditujukan sebagai sarana dakwah, meneguhkan iman, dan menjaga kehormatan.
Pernikahan pada dasarnya merupakan akad antara seorang laki-laki dan perempuan untuk membangun rumahtangga sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Dan sesungguhnya kehidupan rumahtangga dalam Islam adalah kehidupan persahabatan. Suami adalah sahabat karib bagi istrinya, begitu pula sebaliknya, dengan saling melengkapi satu dengan yang lain.
Keduanya, bagaikan dua sahabat karib yang siap berbagi suka dan duka bersama dalam menjalani kehidupan pernikahan mereka demi meraih tujuan yang diridhai Allah SWT. Istri bukanlah sekadar partner kerja bagi suami, apalagi bawahan atau pegawai yang bekerja pada suami. Istri adalah sahabat karib, partner dakwah, partner kerja kebaikan, belahan jiwa, dan tempat curahan hati suaminya. Selalu ada untuk sang suami dan sebaliknya, suami selalu ada untuk sang istri
Karena itu, sudah selayaknya suami akan merasa tenteram dan damai jika ada di sisi istrinya, demikian pula sebaliknya. Suami akan selalu cenderung dan ingin berdekatan dengan istrinya dengan penuh cinta. Di sisi istrinya, suami akan selalu mendapat semangat baru untuk terus menapaki jalan kebaikan (dakwah), dan sebaliknya.
Keduanya akan saling tertarik dan cenderung kepada pasangannya, bukan saling menjauh bahkan bercerai. Keduanya akan saling menasihati bukan mencela, saling menguatkan bukan melemahkan, saling membantu bukan bersaing. Keduanya pun selalu siap berproses bersama meningkatkan kualitas ketakwaannya demi meraih kemulian disisiNya.
Hasilnya, kehidupan pernikahan yang ideal adalah terjalinnya kehidupan persahabatan antara suami dan istri yang mampu memberikan ketenangan dan ketenteraman bagi keduanya. Sering terjadi, kenyataan hidup tidaklah seindah harapan yang kita tanamkan.
Begitu pula dengan kehidupan rumahtangga, tidak selamanya berlangsung tenang, pasti aka nada riak-riak ombak yang akan menghantam biduk rumah tangga. Adakalanya kehidupan suami istri itu dihadapkan pada berbagai problem baik kecil ataupun besar, yang bisa mengusik ketenangan keluarga.
Sebabnya pun sangat beragam. Bisa karena kurangnya komunikasi antara suami istri, suami kurang makruf terhadap istri, kurang perhatian kepada istri dan anak-anak. Istri yang kurang pandai dan kreatif menjalankan fungsinya sebagai istri, ibu, dan manajer rumahtangga dan lainnya. Mari kita terus belajar menjalankan rumah tangga, dengan sebaik-baiknya. Dengan pernikahan ada berjuta kebahagiaan, karena itu jangan pernah takut untuk menikah. Wallahu’alam

Lamar Daku-Kau Kuterima

GUBHUG REYOTT™ | Hasil survey telah membuktikan bahwa jumlah perempuan dan laki-laki adalah 1: 10. Kita pun acap kali mendengar kalimat demikian bila ada seminar atau kajian yang membahas seputar pernikahan, apalagi terkadang ada satu dua orang menjadikannya sebagai dalih berpoligami. “Wajar, bila laki-laki berpoligami, perempuan dan laki kan 1 : 10”, kata seorang teman dalam sebuah guyonan. Wow, sungguh mudah, ya, menjadikannya alasan untuk melaksanakan sunnah Rasul yang sepertinya sulit diterapkan oleh manusia selain Muhammad Saw. Manusia paling mulia seperti beliau dan dikelilingi oleh perempuan pilihan, seperti Aisyah, toh, ternyata masih juga menyisakan riak-riak cemburu. Apatah lagi dengan perempuan zaman sekarang, sulit untuk mencari perempuan yang sekaliber sahabiyah.
Pembaca milis yang setia, entah berapa banding berapa antara perempuan yang lajang dengan perempuan yang sudah berkeluarga, antara yang (maaf) perawan tua dengan yang berkeluarga? Sepertinya, penulis belum pernah melihat data statistik kondisi demikian. Perempuan maupun laki-laki bila hendak menyempurnakan separuh dien, maka segala jenis doa akan tertuju padanya. Itulah tanda-tanda rezeki dari-Nya. Maka, benarlah janji Allah.

Perempuan yang telah berkeluarga, sepertinya butuh waktu menata hati untuk mendengarkan sang pasangan mengucapkan kalimat yang tak biasa seperti, “Umi, sepertinya abi berniat untuk menikahi si fulanah karena alasan ini dan ini” terasa amat sulit. Mendengarnya saja akan membuat mata tak terpejam sehari semalam, hati was-was, gundah gulana kian menghantui, bahkan sesuap nasi akan sangat sulit tertelan. Semua itu efek dari ketidaksiapan seorang perempuan menerima orang ketiga dalam kehidupannya, meskipun datang dengan cara yang halal. Lantas, bagaimana dengan perempuan yang sudah menjomblo sudah terlalu lama, kemudian tiba-tiba dilamar oleh seorang lelaki yang sudah beristri? Bahagia tentu menyelimuti relung hati meski ada tabir yang tak mengenakkan. Salahkah bila sang perempuan ingin menyambut haru-bahagia itu? Salahkah bila sang gadis bila berkata kepada sang lelaki
“Lamar Daku, Kau Kuterima”?
Tentu, berbagai pandangan akan terkuak dari akal yang berbeda. Bergantung cara pandang tiap individu memaknai kalimat demikian. Baik-buruk tentu selalu datang beriringan. Wajar, bila seseorang berpendapat, “tidak sabaran banget, sih”, “kurang pantas, ah”. Pun amat wajar bila ada yang berpandangan, mengucapkan demikian adalah “sesuatu yang tak membuat cela, boleh, sah-sah saja, kok”. Atau bisa jadi ada yang berpendapat seperti ini, “bukankah berkata jujur itu lebih baik daripada memendam, kemudian mengatakan sesuatu yang berlainan antara di hati dan di bibir?” Bukankah ummul mukminin: Khadijah binti Khuwailid mengatakan niat baiknya kepada lelaki sempurna, Rasulullah SAW dengan perantara orang terpercaya? Karena terkesima dengan akhlak beliau yang begitu terjaga. Wallohu’alam bissawwab. Apa pun pendapat para pembaca, sangat dihargai.

Penulis berusaha memahami bahwa, melontarkan kalimat yang menurut sebagian orang masih tabu, maka hati perlu dipersiapkan untuk menerima segala konsekuensinya. Bukan persoalan malu atau berani. Melainkan pada prinsip, seperti apa kita memandangnya. Malu itu memiliki konteks tersendiri, seperti hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, “Bila kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu!”
Tak seorang perempuan pun meminta dirinya untuk menikah dalam keadaan berumur.  Kita mengetahui bahwa posisi perempuan adalah menunggu. Menunggu takdir dari yang kuasa. Menunggu seseorang untuk membawanya mengarungi bahtera rumah tangga, menunggu niatan baik seorang lelaki untuk menerima dirinya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Sungguh, tak ada yang dapat menebak hati seseorang. Mengira ini dan itu. Hanya Sang Pemilik hati yang lebih tahu segalanya. Persoalan ia melangkah dengan benar berarti ia telah mengikuti petunjuk yang tepat dan persoalan ia melangkah dengan kesalahan, itu berarti ia tak mengindahkan aturan main dari yang kuasa.
Menikah itu hanya sekali, hidup juga sekali, mati pun sekali. Masih teringatkah dengan kalimat demikian? Bila pembaca adalah penikmat film India, tentu mengetahui kalimat tersebut pernah booming oleh salah seorang aktor tenar Bollywood, Sahrukh Khan. Yah, demikianlah kalimat yang dia ucapkan dalam film Kuch-kuch Hota Hai. Kalimat yang kurang lebih senada dengan pernyataan sang aktor kehidupan dalam rumah tangga “menikah itu untuk selamanya” demikianlah kata Cahyadi Takariawan dalam sebuah tulisannya di media online gubhugreyott

Ya, menikah itu untuk selamanya. Bukan main-main serta butuh akumulasi kesiapan dalam menjalaninya. Tak cukup hanya dengan niat sebab rentetan kolaborasi dibutuhkan, kesamaan visi-misi, kecenderungan terhadap hal yang berbeda dan hal yang sama, kesamaan dalam kepahaman akan prinsip, yah, intinya sekufu. LAMAR DAKU, KAU KUTERIMA.
Tak usah saling berharap bila akan menuju penyempurnaan dien. Lelaki shalih bila tertambat hatinya pada perempuan shalihah, usah membiarkan berbagai versus berlalu pada lintasan pikiran, “jangan…jangan…kalau saya melamarnya, akan ditolak”, atau “Jangan…jangan…dia tak suka pada lelaki sepertiku”. Sebaliknya, si perempuan shalihah yang ingin menjaga hatinya berniat pula melontarkan hal yang sama, tentunya pada ‘jalur’ yang tepat, eh disangka macem-macem oleh yang lain. Tak ada yang salah. Hanya saja butuh etika dan tak terkesan ‘agresif’. Bukankah Allah sesuai persangkaan kita? Bila lintasan pikiran yang kita bangun adalah positif, kesannya pun akan positif, sebaliknya bila akal diserbu dengan pikiran negatif. Hasil yang dituai pun negatif.

Etika, yah, penulis percaya dengan mempertimbangkan etika, ada kemudahan yang akan diraih. Bukankah tempat terbaik untuk curhat adalah sang pemilik hati? Bila sudah dilakukan, Alhamdulillah ada jalan syar’i yang dicontohkan. Istikharah. Sangat baik memulainya dengan menimbang sebelum menyampaikan ‘niat baik’ kita kepada orang yang tepat, ‘amanah’.
LAMAR DAKU, KAU KUTERIMA, kalimat ini tentu tak perlu ditelaah dengan teori ilmu bahasa, tak usah ditinjau dari segi semantik dan pragmatik sebab maknanya sudah tersurat. Banyak yang berpendapat, perempuan itu mesti jaim dan keep calm, jadi janganlah menampakkan sisi yang bisa menjatuhkan poin positifnya dengan mengatakan dengan vulgar hal sensitif tentang jodoh. Apa yang salah? Bukankah malah lebih baik menyatakannya daripada memendam kemudian menjadi penyakit hati yang menyiksa? Ah, lagi-lagi, ada yang sependapat juga ada yang tidak.

Tak sependapat bukan berarti bertikai. Bila Anda lelaki dan sangat ingin menjaga perempuan dari sangkaan ‘agresif, terlalu buru-buru, tidak sabaran’. Ruang untuk penjagaan itu terbuka lebar, ‘Datangi, Sampaikan, Tetapkan (DST)’ singkirkan berbagai versus yang tak berbobot dalam pikiran. Tapi, bila hal demikian sudah kita lakukan, namun hasil ternyata tak selaras dengan keinginan, bukan berarti, hal itu ‘musibah atau masalah’ sebab kepada-Nya segalanya ditetapkan. Boleh jadi itu adalah ujian iman bagi kita. Manusia hanya mengajukan, PENENTU tetap DIA. Wallohu’alam bissawwab
(dakwatuna)

iklan banner iklan banner iklan banner iklan banner
 
Editing Template By: JokoRowo TlogoRejo Original template By: Creating Website
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2013. GUBHUG REYOTT™- All Rights Reserved